Pentingnya Fasilitas Pendidikan Untuk Menunjang Proses Belajar

Pembangunan merupakan proses berkembangnya suatu daerah. Samuelson Nordhaus mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu syarat wajib dalam mendorong proses pembangunan. Semakin tinggi nilai pertumbuhan ekonomi, maka semakin baik pula pembangunan pada suatu daerah tersebut. Pertumbuhan ekonomi sendiri adalah nilai tambah dalam proses jual beli barang dan jasa. Dimana dalam proses jual beli barang dan jasa ini terdapat faktor sumber daya manusia. Karena sumber daya manusia adalah investasi dasar dalam proses pertumbuhan ekonomi. Sollow mengatakan bahwa dengan semakin tingginya tingkat pendidikan maka akan semakin meningkat tingkat pertumbuhan ekonominya. Sumber daya manusia dianggap sebagai investasi yang berkualitas dan berkemampuan mengenai teknologi. Setiap perusahaan membutuhkan teknologi canggih untuk mendorong proses produksi. Dalam penggunaan dan pengoperasian teknologi inilah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten.

Sumber daya manusia yang berkualitas dibentuk mulai dari usia dini. Pembentukan itu dilakukan didalam lingkungan keluarga ataupun lingkungan diluar keluarga (sosial). Salah satu pembentukan Sumber Daya Manusia diluar sekolah ini adalah sekolah. Standar pendidikan di Indonesia adalah 9 tahun, yaitu dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Angka Partisipasi Murni (APM) di DKI Jakarta tahun 2014 untuk tingat Sekolah Dasar (SD) adalah 96.84% dan pada tahun 2015 adalah sebesar 96.91%. Angka ini menunjukan bahwa masih tinggi antusias masyarakat untuk bersekolah. Sedangkan pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 2015 adalah 76.61% dan pada tahun 2016 adalah 80.20%. Angka ini menunjukan bahwa, dengan antusiasnya masyarakat bersekolah ditinggal Sekolah Dasar (SD) ingin melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tetapi jika dilihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Angka Partisipasi Murni (APM) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2015 sebesar 58.79%, angka ini menunjukan penurunan yang drastis dari Angka Partisipasi Murni (APM) di tingkat Sekolah dasar (SD) dan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini bisa disebabkan oleh keadaan ekonomi seperti perbedaan pendapatan masing masing masyarakatnya atau keadaan fasilitas pendidikan itu sendiri.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah fasilitas pendidikan yang salah satunya adalah jumlah sekolah di DKI Jakarta pada tahun 2014 untuk Sekolah Dasar (SD) adalah 264 sekolah, Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah 253 dan untuk Sekolah Menengah Akhir (SMA) adalah 223. Angka ini menunjukan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sedikit jumlah fasilitas atau jumlah sekolah yang disedikan oleh pemerintah. Dengan sedikitnya jumlah sekolah yang disediakan, semakin dikit pula jumlah peserta didik atau lulusan sumber daya manusia di jenjang yang lebih tinggi. Semakin sedikit sumber daya dengan pendidikan yang tinggi, maka akan semakin menurunkan pertumbuhan ekonomi. Maka negara akan mengalami pailit

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa sumber daya manusia merupakan modal dasar dalam segala hal dalam kehidupan ini. Jumlah sekolah merupakan salah satu penentu pembentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, oleh sebab itu pemerintah sebaiknya lebih mementingkan aspek pendidikan dengan menganggarkan Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara pada fasilitas pendidikan salah satunya adalah jumlah sekolaj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *